- RTS Ekspedisi
- Jul 30, 2026
- EDUKASI
Cara Membuat Purchase Order Impor dari China yang Benar – Memahami cara membuat purchase order impor dari China membantu importir mencatat spesifikasi, jumlah, harga, kemasan, pembayaran, serta instruksi pengiriman secara jelas sebelum supplier memulai produksi.

Apa Itu Purchase Order Impor dari China?
Purchase order atau PO adalah dokumen pemesanan yang dibuat oleh buyer untuk supplier. Dokumen ini berisi rincian barang yang dipesan serta ketentuan yang sudah disepakati sebelum produksi atau pengiriman dimulai.
Dalam proses impor, PO membantu supplier memahami kebutuhan buyer secara tertulis. Dokumen ini juga menjadi referensi ketika buyer memeriksa proforma invoice, hasil produksi, packing list, dan barang yang tiba di gudang China.
Purchase order umumnya memuat:
- Identitas buyer dan supplier.
- Nomor serta tanggal PO.
- Nama barang dan kode produk.
- Spesifikasi, warna, ukuran, dan material.
- Jumlah barang yang dipesan.
- Harga satuan dan total pesanan.
- Ketentuan pembayaran.
- Target waktu produksi.
- Standar kemasan dan shipping mark.
- Alamat tujuan pengiriman di China.
PO bukan dokumen yang menentukan bahwa suatu barang pasti dapat diimpor. Kelayakan pengiriman tetap perlu diperiksa berdasarkan jenis barang, spesifikasi, dokumen, dan ketentuan yang berlaku.
Mengapa Purchase Order Penting bagi Importir?
Kesepakatan melalui chat sering tersebar dalam banyak pesan. Supplier dapat menerima perubahan warna melalui WeChat, perubahan jumlah melalui email, dan instruksi kemasan melalui percakapan lain.
Tanpa satu dokumen yang merangkum seluruh kesepakatan, risiko kesalahan menjadi lebih besar.
Purchase order yang rapi membantu:
- Mengurangi kesalahan jumlah dan variasi produk.
- Menghindari perbedaan harga dengan kesepakatan awal.
- Menjadi acuan saat memeriksa proforma invoice.
- Mencatat standar material dan kualitas produk.
- Menjelaskan kebutuhan kemasan dan label karton.
- Menghubungkan pesanan dengan packing list.
- Mempermudah pengecekan barang di gudang China.
- Membantu pencatatan stok dan biaya pembelian.
- Menjadi referensi jika terjadi selisih pesanan.
Bagi importir yang membeli barang dari beberapa supplier, nomor PO juga membantu proses konsolidasi. Setiap barang dapat dilacak berdasarkan supplier, pesanan, dan kode produk masing-masing.
Data yang Wajib Dicantumkan dalam Purchase Order
Format purchase order dapat disesuaikan dengan kebutuhan bisnis. Namun, beberapa informasi dasar sebaiknya selalu dicantumkan.
- Nomor PO: gunakan nomor unik untuk setiap pesanan.
- Tanggal PO: menunjukkan kapan pesanan diterbitkan.
- Data buyer: nama perusahaan, alamat, dan kontak.
- Data supplier: nama perusahaan, alamat, dan kontak sales.
- Nama produk: gunakan nama yang jelas dan mudah dikenali.
- SKU: kode unik untuk setiap produk atau variasi.
- Spesifikasi: material, ukuran, warna, model, fungsi, dan detail teknis.
- Kuantitas: jumlah unit untuk setiap SKU.
- Harga satuan: harga per unit sesuai mata uang transaksi.
- Total harga: hasil perkalian harga dengan jumlah barang.
- Ketentuan pembayaran: persentase uang muka dan pelunasan.
- Lead time: estimasi waktu produksi atau kesiapan barang.
- Standar kemasan: isi per karton, bahan kardus, dan perlindungan tambahan.
- Shipping mark: kode yang harus ditempel pada setiap karton.
- Alamat gudang China: tujuan pengiriman domestik dari supplier.
- Catatan QC: standar pemeriksaan yang telah disepakati.
Untuk produk custom atau private label, lampirkan desain logo, ukuran cetak, posisi logo, warna, bahan, contoh kemasan, dan foto referensi. Jangan hanya menuliskan “sesuai sampel” tanpa mengidentifikasi sampel yang dimaksud.
Cara Membuat Purchase Order Impor dari China
Cara membuat purchase order impor dari China dapat dimulai menggunakan Excel, Google Sheets, aplikasi akuntansi, atau sistem procurement. Aplikasi yang digunakan tidak harus rumit selama datanya lengkap dan mudah diperiksa.
Berikut langkah yang dapat diterapkan:
- Buat nomor PO: gunakan format yang konsisten, misalnya PO-2026-0730-001.
- Masukkan data supplier: cocokkan nama perusahaan dengan quotation atau proforma invoice.
- Susun daftar SKU: pisahkan setiap warna, ukuran, dan model dalam baris berbeda.
- Tulis spesifikasi secara rinci: jangan hanya menggunakan nama produk umum.
- Masukkan jumlah dan harga: periksa perkalian harga satuan dengan kuantitas.
- Catat biaya tambahan: misalnya biaya mold, cetak logo, kemasan, atau sampel.
- Masukkan ketentuan pembayaran: tulis jadwal pembayaran sesuai kesepakatan.
- Tentukan target produksi: cantumkan tanggal atau estimasi barang selesai.
- Tambahkan instruksi packing: jelaskan isi karton dan perlindungan barang.
- Masukkan alamat gudang: gunakan alamat gudang China dari forwarder.
- Tambahkan shipping mark: pastikan formatnya sesuai arahan ekspedisi.
- Lakukan pemeriksaan ulang: cocokkan PO dengan quotation dan percakapan supplier.
- Kirim kepada supplier: minta supplier memberikan konfirmasi tertulis.
- Simpan versi final: gunakan PDF agar format dokumen tidak berubah.
Setiap revisi sebaiknya memiliki nomor versi atau tanggal pembaruan. Hindari mengubah file tanpa memberi tahu supplier karena kedua pihak dapat menggunakan versi PO yang berbeda.
Contoh Simulasi Purchase Order Sederhana
Misalnya, sebuah UMKM memesan 600 botol minum stainless steel dari supplier China. Produk tersedia dalam tiga warna dengan harga CNY 18,50 per unit.
Rincian pesanannya:
- SKU BTL-BLK — warna hitam — 200 unit.
- SKU BTL-WHT — warna putih — 200 unit.
- SKU BTL-BLU — warna biru — 200 unit.
- Total pesanan — 600 unit.
- Harga per unit — CNY 18,50.
- Total nilai produk — CNY 11.100.
- Isi per karton — 20 unit.
- Perkiraan jumlah karton — 30 karton.
- Target produksi — 20 hari setelah uang muka diterima.
Dalam PO, jangan hanya menulis “600 botol minum”. Setiap warna harus dibuat dalam baris berbeda agar supplier, buyer, dan gudang China dapat melakukan pengecekan berdasarkan SKU.
Tambahkan juga detail seperti:
- Bahan stainless steel yang disepakati.
- Kapasitas botol.
- Warna badan dan tutup botol.
- Jenis kemasan satuan.
- Posisi logo jika menggunakan private label.
- Toleransi warna dan ukuran jika diperlukan.
- Jumlah unit dalam setiap karton.
- Shipping mark untuk setiap karton.
Angka pada simulasi tersebut hanya contoh. Harga, jumlah, lead time, dan standar kemasan harus mengikuti kesepakatan aktual dengan supplier.
Sinkronkan PO, Proforma Invoice, dan Packing List
Purchase order, proforma invoice, dan packing list memiliki fungsi berbeda, tetapi datanya harus saling terhubung.
- Purchase order: menjelaskan barang yang ingin dipesan buyer.
- Proforma invoice: menjelaskan penawaran dan tagihan awal dari supplier.
- Packing list: menjelaskan kondisi barang setelah selesai dikemas.
Ketika supplier mengirim proforma invoice, periksa kesesuaiannya dengan PO. Pastikan nama produk, SKU, jumlah, harga, biaya tambahan, metode pembayaran, dan target produksi tidak berubah tanpa persetujuan.
Setelah produksi selesai, cocokkan packing list dengan PO dan proforma invoice. Perbedaan dapat terjadi karena hasil produksi aktual, perubahan kemasan, atau penyesuaian jumlah. Setiap selisih harus dijelaskan sebelum barang dikirim.
Gunakan nomor PO pada seluruh dokumen agar proses pencocokan lebih mudah. Nomor yang sama juga dapat dicantumkan pada laporan QC, invoice, packing list, dan dokumen penerimaan gudang.
Instruksi Pengiriman ke Gudang China
Purchase order dapat memuat instruksi logistik agar supplier tidak salah mengirim barang. Bagian ini penting ketika importir menggunakan forwarder dan layanan konsolidasi.
Informasi yang perlu disiapkan antara lain:
- Nama penerima di gudang China.
- Alamat lengkap gudang.
- Nomor telepon penerima.
- Kode pelanggan atau shipping mark.
- Nomor purchase order.
- Nama supplier dan jumlah karton.
- Permintaan nomor resi domestik China.
- Permintaan foto barang sebelum dikirim.
- Permintaan foto label pada setiap karton.
- Catatan penanganan untuk barang fragile atau mudah rusak.
Minta supplier mengirimkan nomor resi domestik setelah barang diberangkatkan. Informasikan nomor tersebut kepada forwarder agar gudang China dapat memperkirakan kedatangan paket.
Jika barang berasal dari beberapa supplier, setiap supplier harus menggunakan shipping mark yang benar. Gudang kemudian dapat mengidentifikasi pemilik barang dan menggabungkannya dalam proses konsolidasi pengiriman China–Indonesia.
Peran Buyer, Supplier, Gudang China, dan Forwarder
Setiap pihak memiliki tanggung jawab berbeda dalam pelaksanaan purchase order.
- Buyer atau importir: membuat PO, menetapkan spesifikasi, dan memeriksa seluruh data.
- Supplier: mengonfirmasi PO, memproduksi barang, dan melaporkan jika ada perubahan.
- Tim QC: memeriksa barang berdasarkan spesifikasi yang tercantum dalam PO.
- Gudang China: menerima paket, mencatat karton, dan memeriksa shipping mark.
- Forwarder: mengatur konsolidasi, jadwal keberangkatan, dan pengiriman China–Indonesia.
- Ekspedisi Indonesia: menangani distribusi lanjutan sesuai layanan yang digunakan.
Purchase order tidak menggantikan koordinasi antarpihak. Dokumen tersebut menjadi acuan bersama agar komunikasi lebih terstruktur dan setiap perubahan dapat dilacak.
Untuk layanan door-to-door, data pesanan yang rapi membantu koordinasi sejak barang dikirim supplier menuju gudang China sampai diterima di Indonesia.
Kesalahan Umum Saat Membuat Purchase Order
Kesalahan purchase order sering terlihat kecil, tetapi dapat memengaruhi produksi, packing, hingga proses penerimaan barang.
Beberapa kesalahan yang perlu dihindari:
- Menggunakan deskripsi barang yang terlalu umum.
- Tidak memisahkan warna, ukuran, atau model.
- Tidak mencantumkan kode SKU.
- Harga pada PO berbeda dari quotation supplier.
- Tidak memasukkan biaya kemasan atau cetak logo.
- Tidak menjelaskan spesifikasi material.
- Tidak mencantumkan target produksi.
- Tidak menuliskan standar pemeriksaan kualitas.
- Mengirim alamat gudang China yang belum diperiksa.
- Tidak mencantumkan shipping mark.
- Tidak memberikan nomor revisi dokumen.
- Mengandalkan chat tanpa konfirmasi PO final.
- Melakukan pembayaran sebelum memeriksa data supplier.
- Menganggap PO berarti semua barang otomatis dapat dikirim.
Hindari menyalin PO lama tanpa memperbarui nama supplier, harga, alamat gudang, dan variasi produk. Template boleh digunakan kembali, tetapi seluruh data harus diperiksa untuk setiap pesanan.
Checklist Sebelum Purchase Order Dikirim
Gunakan checklist berikut sebelum mengirimkan purchase order kepada supplier:
- Nomor dan tanggal PO sudah benar.
- Nama buyer serta supplier sudah diperiksa.
- Nama barang dan kode SKU sudah jelas.
- Setiap variasi dibuat dalam baris berbeda.
- Material, ukuran, warna, dan fungsi sudah dicantumkan.
- Jumlah per SKU sudah sesuai.
- Harga satuan dan total sudah dihitung ulang.
- Mata uang transaksi sudah jelas.
- Biaya tambahan sudah dicantumkan.
- Ketentuan pembayaran sudah sesuai kesepakatan.
- Target produksi sudah dicatat.
- Standar kemasan sudah dijelaskan.
- Isi per karton sudah disepakati jika tersedia.
- Shipping mark sudah benar.
- Alamat gudang China sudah diperiksa.
- Instruksi QC sudah dicantumkan.
- Lampiran desain dan foto referensi sudah lengkap.
- Supplier telah diminta mengonfirmasi PO.
- Versi final sudah disimpan dalam PDF.
- Salinan PO sudah diberikan kepada pihak terkait.
Tips praktisnya, simpan PO dalam format spreadsheet dan PDF. Spreadsheet memudahkan revisi serta perhitungan, sedangkan PDF menjaga tampilan dokumen ketika dikirim kepada supplier.
Tabel Ringkasan Proses Purchase Order
| Tahap | Pelaku | Aktivitas | Hasil |
|---|---|---|---|
| Pengumpulan Data | Buyer dan Supplier | Menyepakati produk, spesifikasi, jumlah, harga, dan kemasan | Data pesanan awal |
| Pembuatan PO | Buyer | Menyusun seluruh rincian pesanan dalam dokumen | Draft purchase order |
| Konfirmasi | Supplier | Memeriksa kemampuan produksi, harga, dan jadwal | PO dikonfirmasi atau direvisi |
| Produksi dan QC | Supplier dan Tim QC | Memproduksi dan memeriksa barang berdasarkan PO | Barang sesuai spesifikasi |
| Pengiriman Domestik China | Supplier | Memberi label dan mengirim barang ke gudang China | Barang serta nomor resi dikirim |
| Penerimaan dan Konsolidasi | Gudang China dan Forwarder | Mencatat karton, memeriksa marking, dan menggabungkan pengiriman | Barang siap diberangkatkan |
| Pengiriman Internasional | Forwarder dan Ekspedisi | Menangani pengiriman China–Indonesia sesuai layanan | Barang dikirim menuju Indonesia |
FAQ Seputar Cara Membuat Purchase Order Impor dari China
Apa perbedaan purchase order dan proforma invoice?
Purchase order dibuat oleh buyer sebagai dokumen pemesanan. Proforma invoice umumnya dibuat oleh supplier untuk mengonfirmasi produk, harga, biaya, dan ketentuan transaksi.
Apakah purchase order harus dibuat dalam bahasa Inggris?
Tidak selalu. Namun, bahasa Inggris sering digunakan agar lebih mudah dipahami oleh buyer, supplier, dan pihak lain yang terlibat. Anda juga dapat membuat versi bilingual jika diperlukan.
Apakah purchase order dapat dibuat menggunakan Excel?
Bisa. Excel atau Google Sheets cukup untuk membuat PO sederhana. Setelah datanya final, simpan juga dalam PDF agar format dokumen tidak berubah.
Siapa yang harus menandatangani purchase order?
Penandatangan dapat disesuaikan dengan prosedur perusahaan. Untuk UMKM, PO dapat disetujui oleh pemilik usaha atau pihak yang berwenang melakukan pembelian.
Bagaimana jika supplier meminta perubahan setelah PO dikirim?
Periksa alasan perubahan, lalu buat revisi PO jika disetujui. Cantumkan nomor versi dan tanggal revisi agar tidak terjadi perbedaan dokumen.
Apakah alamat gudang China perlu ditulis dalam PO?
Sebaiknya dicantumkan jika supplier harus mengirim barang ke gudang forwarder. Periksa kembali nama penerima, nomor telepon, alamat, dan shipping mark sebelum PO dikirim.
Apakah purchase order menjamin barang dapat diimpor?
Tidak. PO hanya mencatat kesepakatan pembelian. Kelayakan impor tetap bergantung pada jenis barang, spesifikasi, dokumen, klasifikasi, dan ketentuan yang berlaku.
Kesimpulan
Memahami cara membuat purchase order impor dari China membantu buyer dan supplier bekerja menggunakan referensi yang sama. PO perlu memuat identitas pihak, rincian produk, SKU, spesifikasi, jumlah, harga, pembayaran, lead time, standar kemasan, shipping mark, dan alamat gudang China.
Periksa kembali purchase order sebelum produksi dimulai. Setelah supplier mengonfirmasi pesanan, sinkronkan datanya dengan proforma invoice, laporan QC, packing list, dan laporan penerimaan gudang. Koordinasi yang rapi antara buyer, supplier, forwarder, gudang China, dan ekspedisi akan mempermudah konsolidasi serta pengiriman door-to-door menuju Indonesia.
Jika setelah membaca Anda membutuhkan bantuan layanan profesional, kunjungi situs utama kami di RTS Ekspedisi. Dengan pengalaman menangani pengiriman door to door dari gudang China hingga Indonesia, kami siap menjadi partner tepercaya untuk kebutuhan pengiriman Anda. Selamat belajar dan semoga blog ini menjadi rujukan utama Anda dalam dunia impor.
