Partial Shipment Impor dari China: Kapan Barang Sebaiknya Dikirim Bertahap?Menggunakan partial shipment impor dari China dapat menjadi pilihan ketika sebagian barang sudah siap di gudang China tetapi supplier lain belum selesai. Importir perlu membandingkan kebutuhan stok, waktu, konsolidasi, dan biaya sebelum memutuskan mengirim sebagian atau menunggu seluruh pesanan lengkap.

proses partial shipment impor dari China di gudang sebelum barang dimuat ke kontainer

Apa Itu Partial Shipment Impor dari China?

Partial shipment adalah pengiriman sebagian barang dari total pesanan atau rencana shipment yang dimiliki importir.

Dalam praktik impor China–Indonesia, kondisi ini sering terjadi ketika customer membeli dari beberapa supplier.

Contohnya:

  • Supplier A sudah mengirim 20 karton ke gudang China.
  • Supplier B sudah mengirim 15 karton.
  • Supplier C masih produksi.
  • Supplier D mengalami keterlambatan bahan baku.

Importir kemudian memiliki dua pilihan.

Pilihan pertama adalah menunggu seluruh supplier selesai lalu melakukan konsolidasi.

Pilihan kedua adalah mengirim barang Supplier A dan B terlebih dahulu sebagai partial shipment.

Barang Supplier C dan D dikirim pada shipment berikutnya.

Partial shipment juga dapat terjadi pada satu supplier.

Misalnya Anda memesan 5.000 unit.

Supplier baru menyelesaikan 3.000 unit, sementara 2.000 unit lainnya masih produksi.

Jika 3.000 unit pertama sangat dibutuhkan untuk stok, buyer dapat mempertimbangkan pengiriman bertahap setelah mendiskusikannya dengan supplier dan forwarder.

Mengapa Importir Menggunakan Partial Shipment?

Alasan utama biasanya bukan sekadar karena barang sudah tersedia.

Keputusan partial shipment berkaitan dengan kebutuhan bisnis.

Stok di Indonesia hampir habis

Produk best seller mungkin tidak dapat menunggu supplier lain selesai.

Kehabisan stok dapat menyebabkan:

  • Penjualan berhenti.
  • Ranking marketplace turun.
  • Iklan kehilangan momentum.
  • Customer berpindah ke kompetitor.

Dalam situasi seperti ini, sebagian barang dapat diprioritaskan.

Supplier mengalami keterlambatan

Misalnya sembilan supplier sudah selesai tetapi satu supplier mundur tiga minggu.

Importir perlu menilai apakah masuk akal menahan seluruh barang hanya untuk menunggu satu supplier.

Produk memiliki prioritas berbeda

Barang fast moving dapat dikirim terlebih dahulu.

Produk slow moving dapat menunggu konsolidasi berikutnya.

Peluncuran produk memiliki deadline

Brand mungkin membutuhkan barang sebelum:

  • Campaign marketplace.
  • Event.
  • Ramadan.
  • Lebaran.
  • Akhir tahun.
  • Launching produk.

Dalam kondisi tersebut, waktu dapat menjadi faktor yang lebih penting daripada menunggu shipment lengkap.

Kapan Sebaiknya Menunggu Konsolidasi?

Partial shipment tidak selalu menjadi pilihan terbaik.

Ada kondisi ketika menunggu barang lengkap justru lebih masuk akal.

Selisih waktu supplier hanya sedikit

Misalnya:

  • Supplier A sudah tiba.
  • Supplier B tiba dua hari lagi.
  • Supplier C tiba tiga hari lagi.

Jika tidak ada kebutuhan stok mendesak, menunggu beberapa hari dapat membuat shipment lebih sederhana.

Barang tidak urgent

Produk merupakan stok tambahan dan inventory Indonesia masih cukup.

Shipment terlalu kecil

Mengirim beberapa batch yang terlalu kecil dapat membuat struktur biaya berbeda dibandingkan konsolidasi yang lebih optimal.

Diskusikan dengan forwarder sebelum menentukan keputusan.

Produk merupakan satu set

Contohnya Anda menjual:

  • Mesin.
  • Aksesori.
  • Adaptor.
  • Kemasan.

Jika barang baru dapat dijual ketika seluruh komponennya tersedia, mengirim mesin tanpa aksesori mungkin tidak memberikan manfaat bisnis.

Cara Menentukan Barang yang Dikirim Lebih Dulu

Jangan memilih berdasarkan supplier yang kebetulan datang paling awal.

Gunakan prioritas bisnis.

Kelompokkan produk menjadi tiga kategori.

Prioritas A — Urgent

Produk yang perlu dikirim secepat mungkin.

Contohnya:

  • Stok hampir habis.
  • Best seller.
  • Sudah memiliki pre-order.
  • Dibutuhkan untuk campaign.
  • Dibutuhkan customer B2B.

Prioritas B — Normal

Barang dapat dikirim sekarang atau menunggu konsolidasi.

Prioritas C — Tidak Mendesak

Produk dapat menunggu shipment berikutnya.

Kemudian periksa status gudang.

Contohnya:

  • SKU-A — Priority A — RECEIVED.
  • SKU-B — Priority A — WAITING.
  • SKU-C — Priority B — RECEIVED.
  • SKU-D — Priority C — RECEIVED.

Dalam contoh tersebut, SKU-A dapat menjadi kandidat partial shipment.

Namun SKU-B belum dapat diproses karena barang belum diterima gudang.

Cara Mengatur Partial Shipment dari Gudang China

Gunakan data yang jelas agar barang shipment pertama dan kedua tidak tertukar.

Langkah 1 — Buat daftar seluruh PO aktif

Catat:

  • Supplier.
  • PO.
  • SKU.
  • Jumlah.
  • Jumlah karton.
  • Status produksi.

Langkah 2 — Cocokkan resi domestik

Pastikan supplier yang mengaku sudah mengirim memberikan nomor resi.

Langkah 3 — Periksa warehouse receipt

Barang yang sudah dikirim supplier belum tentu sudah diterima gudang China.

Gunakan data penerimaan aktual.

Langkah 4 — Tentukan prioritas

Berikan status:

  • URGENT.
  • NORMAL.
  • WAIT.

Langkah 5 — Bentuk shipment pertama

Contohnya:

  • SHIPMENT-01.
  • Supplier A: 15 CTN.
  • Supplier B: 10 CTN.
  • Total: 25 CTN.

Langkah 6 — Beri status barang sisanya

Contohnya:

  • Supplier C: HOLD.
  • Supplier D: WAITING.

Langkah 7 — Konfirmasi dengan forwarder

Sebelum barang masuk proses berikutnya, minta forwarder mengecek kelayakan konsolidasi dan opsi pengiriman berdasarkan karakter barang.

Langkah 8 — Simpan histori

Jangan menghapus data barang yang belum dikirim.

Masukkan ke outstanding shipment.

Contoh Simulasi Partial Shipment

Misalnya sebuah seller marketplace memiliki empat supplier.

Data barang:

  • Supplier A — 20 CTN — 800 pcs — RECEIVED.
  • Supplier B — 15 CTN — 600 pcs — RECEIVED.
  • Supplier C — 25 CTN — 1.000 pcs — produksi selesai 10 hari lagi.
  • Supplier D — 10 CTN — 400 pcs — RECEIVED.

Total rencana:

  • 70 karton.
  • 2.800 pcs.

Produk Supplier A adalah best seller dan stok Indonesia diperkirakan habis dalam waktu dekat.

Supplier B merupakan produk pendukung.

Supplier D adalah produk baru yang belum urgent.

Ada dua skenario.

Skenario 1 — Menunggu Semua Barang

Importir menunggu Supplier C.

Shipment kemudian berisi seluruh 70 karton.

Keuntungannya:

  • Administrasi shipment lebih sederhana.
  • Seluruh barang bergerak dalam satu batch.
  • Konsolidasi dapat direncanakan sekaligus.

Risikonya:

  • Produk Supplier A ikut menunggu.
  • Potensi kehabisan stok meningkat.

Skenario 2 — Partial Shipment

Shipment pertama:

  • Supplier A: 20 CTN.
  • Supplier B: 15 CTN.
  • Total: 35 CTN.

Supplier D ditahan.

Supplier C menunggu produksi.

Shipment kedua:

  • Supplier C: 25 CTN.
  • Supplier D: 10 CTN.
  • Total: 35 CTN.

Dengan skenario tersebut, produk prioritas dapat bergerak lebih dahulu.

Namun importir tetap perlu meminta forwarder membandingkan konsekuensi operasional dan biaya dari dua shipment dibandingkan satu konsolidasi.

Cara Menghitung Apakah Partial Shipment Layak

Jangan melihat ongkir saja.

Bandingkan dampak bisnis secara keseluruhan.

Gunakan pendekatan sederhana:

Potensi kehilangan margin karena stok kosong vs tambahan biaya akibat shipment terpisah.

Contoh simulasi sederhana:

Produk A menghasilkan margin Rp25.000 per unit.

Penjualan rata-rata:

20 unit per hari.

Jika stok kosong selama 10 hari:

20 × 10 = 200 unit potensi penjualan.

Potensi margin yang tertunda atau hilang:

200 × Rp25.000 = Rp5.000.000.

Kemudian tanyakan kepada forwarder mengenai perbedaan estimasi biaya antara:

  • Mengirim sebagian sekarang.
  • Menunggu seluruh barang.

Jika dampak ke bisnis akibat stockout jauh lebih besar, partial shipment dapat menjadi pilihan yang layak dipertimbangkan.

Namun angka tersebut hanyalah simulasi bisnis.

Perhitungan aktual harus menggunakan:

  • Harga produk.
  • Margin aktual.
  • Kecepatan penjualan.
  • Volume barang.
  • Berat barang.
  • Jenis barang.
  • Metode pengiriman.
  • Quotation forwarder.

Kesalahan Umum Saat Menggunakan Partial Shipment

Partial shipment membutuhkan pencatatan lebih rapi karena satu PO dapat tersebar dalam beberapa shipment.

Hindari kesalahan berikut:

  • Mengirim berdasarkan informasi supplier tanpa mengecek gudang.
  • Tidak mencatat SKU pada setiap shipment.
  • Tidak memisahkan quantity shipment pertama dan kedua.
  • Tidak mencatat outstanding quantity.
  • Mencampur barang HOLD dengan barang SHIP.
  • Tidak memberi instruksi yang jelas kepada forwarder.
  • Tidak memperbarui packing list internal.
  • Tidak menghitung kebutuhan stok Indonesia.
  • Hanya melihat ongkir tanpa menghitung risiko stockout.
  • Mengirim barang yang sebenarnya tidak urgent.
  • Menahan best seller hanya karena produk slow moving belum datang.
  • Tidak menyimpan histori shipment.

Gunakan nomor batch.

Contohnya:

  • PO-001 / SHIPMENT-01.
  • PO-001 / SHIPMENT-02.

Dengan cara tersebut, satu purchase order tetap dapat ditelusuri walaupun dikirim dalam beberapa tahap.

Checklist dan Tabel Partial Shipment

Sebelum memutuskan partial shipment impor dari China, gunakan checklist berikut:

  • Daftar seluruh supplier sudah tersedia.
  • Purchase order sudah dicocokkan.
  • Status produksi setiap supplier diketahui.
  • Nomor resi domestik sudah tersedia.
  • Pre-alert sudah diperiksa.
  • Warehouse receipt sudah tersedia.
  • Jumlah karton aktual sudah diketahui.
  • Quantity per SKU sudah dicocokkan.
  • Produk urgent sudah ditentukan.
  • Stok Indonesia sudah dihitung.
  • Kecepatan penjualan sudah diperiksa.
  • Deadline campaign sudah diketahui.
  • Barang SHIP sudah ditentukan.
  • Barang HOLD sudah ditentukan.
  • Barang WAITING sudah dicatat.
  • Shipment ID sudah dibuat.
  • Kebutuhan konsolidasi sudah dibahas.
  • Karakter barang sudah diinformasikan kepada forwarder.
  • Perbandingan opsi biaya sudah diminta.
  • Outstanding shipment sudah dicatat.
  • Instruksi final sudah dikonfirmasi forwarder.
Tahap Pelaku Aktivitas Hasil
Monitoring Supplier Importir Memeriksa status produksi seluruh supplier Supplier ready dan waiting diketahui
Inbound Gudang China Menerima barang dan mencatat resi serta karton Barang aktual diketahui
Rekonsiliasi Importir & Forwarder Mencocokkan PO, SKU, quantity, dan warehouse receipt Data siap diprioritaskan
Prioritas Importir Menentukan barang urgent, normal, dan wait Prioritas shipment tersedia
Simulasi Importir & Forwarder Membandingkan opsi partial shipment dan menunggu konsolidasi Skenario pengiriman dipilih
Shipment 1 Gudang & Forwarder Memproses barang prioritas sesuai instruksi Barang urgent diproses
Outstanding Importir Mencatat barang yang belum dikirim Sisa PO tetap terkontrol
Shipment 2 Ekspedisi & Forwarder Melanjutkan konsolidasi dan pengiriman China–Indonesia berikutnya Outstanding selesai diproses

FAQ Seputar Partial Shipment Impor dari China

Apa itu partial shipment impor dari China?

Partial shipment adalah pengiriman sebagian barang lebih dahulu, sementara sisa barang dikirim pada shipment berikutnya. Metode ini dapat digunakan ketika barang tidak selesai atau tidak tiba di gudang China secara bersamaan.

Apakah lebih murah menunggu semua barang terkumpul?

Tidak dapat digeneralisasi. Struktur biaya bergantung pada volume, berat, jenis barang, metode pengiriman, dan kondisi shipment. Mintalah forwarder membandingkan opsi sebelum mengambil keputusan.

Kapan partial shipment cocok digunakan?

Partial shipment dapat dipertimbangkan ketika produk prioritas sudah tersedia, stok Indonesia hampir habis, ada deadline penjualan, atau supplier lain mengalami keterlambatan yang cukup lama.

Apakah satu purchase order bisa dikirim beberapa kali?

Secara operasional dapat terjadi jika buyer dan supplier menyepakati pengiriman bertahap. Pastikan quantity setiap shipment dan outstanding quantity tercatat dengan jelas.

Bagaimana mencatat barang yang belum ikut shipment pertama?

Gunakan daftar outstanding yang berisi PO, supplier, SKU, quantity, jumlah karton, status produksi, dan rencana shipment berikutnya.

Apakah barang dari beberapa supplier bisa digabung dalam partial shipment?

Konsolidasi barang dari beberapa supplier dapat dilakukan sesuai karakter barang, kesiapan barang, serta ketentuan layanan forwarder. Konfirmasikan detail barang sebelum shipment dibentuk.

Apa risiko terbesar partial shipment?

Salah satu risikonya adalah pencatatan menjadi lebih kompleks. Tanpa shipment ID dan outstanding list yang rapi, quantity satu PO dapat tertukar antara shipment pertama dan berikutnya.

Kesimpulan

Partial shipment impor dari China dapat membantu importir memprioritaskan barang yang benar-benar dibutuhkan tanpa selalu menunggu seluruh supplier selesai.

Namun keputusan sebaiknya tidak dibuat hanya karena sebagian barang sudah berada di gudang China.

Periksa stok Indonesia, kecepatan penjualan, deadline bisnis, status supplier, warehouse receipt, quantity per SKU, volume barang, dan perbandingan opsi pengiriman.

Jika barang tidak mendesak dan supplier lain segera selesai, konsolidasi dapat menjadi pilihan yang lebih sederhana. Sebaliknya, jika best seller berisiko kehabisan stok sementara supplier lain masih lama, partial shipment layak dipertimbangkan.

Gunakan shipment ID serta outstanding list agar barang yang dikirim bertahap tetap dapat ditelusuri dari purchase order sampai pengiriman China–Indonesia.

Jika setelah membaca Anda membutuhkan bantuan layanan profesional, kunjungi situs utama kami di RTS Ekspedisi. Dengan pengalaman menangani pengiriman door to door dari gudang China hingga Indonesia, kami siap menjadi partner tepercaya untuk kebutuhan pengiriman Anda. Selamat belajar dan semoga blog ini menjadi rujukan utama Anda dalam dunia impor.

Barang Sebagian Sudah Siap di Gudang China?

Bandingkan opsi kirim sekarang atau tunggu konsolidasi bersama RTS Ekspedisi

Tim RTS Ekspedisi dapat membantu Anda mengoordinasikan barang dari beberapa supplier, konsolidasi di gudang China, serta opsi pengiriman door-to-door menuju Indonesia sesuai kebutuhan shipment.